27October2015

How to train a cat

Posted by Mirth under: Uncategorized.

(function(d, s, id) { var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0]; if (d.getElementById(id)) return; js = d.createElement(s); js.id = id; js.src = “//connect.facebook.net/en_US/sdk.js#xfbml=1&version=v2.3″; fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);}(document, ’script’, ‘facebook-jssdk’));

教喵星人上廁所! - 鍾意請廣傳/Please SHARE

<教喵星人上廁所!> - 鍾意請廣傳/Please SHARE//Easy Toilet Training for Cats!//應該很受貓主人喜愛!Source: Net Pet Shop You Tube Channel#cat #kitten #toilet #training #happypeople“The best way to cheer yourself is to try to cheer someone else up” - Mark Twain

Posted by 開心快活人 on Thursday, June 4, 2015

0 

20November2012

EVOLUSI dan AGAMA KRISTEN

Posted by Mirth under: antropologi ragawi.

untuk versi PDF, klik di sini:  evolusidanpenciptaan.pdf

oleh Josef Glinka SVD

Jurusan Antropologi, FISIP, Universitas Airlangga, Surabaya

             Sejak saat para pakar mengemukakan teori evolusi biologis, langsung muncul reaksi dari pihak agama. Ketegangan ini berlangsung sampai dewasa ini antara para evolusionis dan kreasionis (khusus dari beberapa kubu protestan). Jika diperhatikan pokok diskusi ini, nyata, bahwa tidak terdapat titik temu, karena masing-masing aliran berbicara pada gelombangnya sendiri, yang berbeda dari lawannya[1]. Gelombang berbeda ini terjadi antara lain karena kesalahfahaman metodologis.

Sumber pengentahuan kita

            Ada dua sumber pengetahuan kita – pengalaman, eksperimen dan kepercayaan.

Dalam pengenalan realita ada tahapan.

Tahap awal ialah pengalaman melalui indra. Kita mengalami terang dan gelap, panas dan dingin, kita melihat benda – pohon, binatang, tanah, langit, kita mencium, mendengar. Kesan ini diolah oleh otak kita dan membentuk konsp realitas, benda dan peristiwa. Ini proses generalisasi dan abstraksi, sehingga kita tahu – ini bintang, ini pohon, ini hijau, ini merah. Selanjutnya kita ingin tahu hubungan kausal – kenapa  demikian, dari mama itu, untuk apa itu.

Sumber lain pengetahuan kita adalah kepercayaan. Tidak mungkin saya mengenal segala sesuatu, maka saya terima pengetahuan orang lain. Saya terima, karena saya percaya, bahwa orang ini tahu dan mau menyampaikan kebenaran, orang ini dapa dipercaya (kredidilitas).

Evolusi merupakan ilmu alam. Ilmu alam berpangkal pada fakta, yang dianalisis dan dibandingkan, guna menyusun generalisasi berbentuk dalil. Berarti sains memakai metode induktif.

Agama berpangkal pada Kitab Suci, yaitu wahyu ilahi. Kitab Suci kebanyakan bersifat normatif, lalu metode, yang dipergunakan dalam agama bersifat deduktif. – Kenapa dan apa Tuhan mewahyukan kepada manusia? Karena kodrat Tuhan melebihi akal-budi manusia, maka Tuhan menyatakan kodratNya kepada manusia melalui wahyu. Selain itu, Tuhan mewahyukan aturan yang seharusnya berlaku antara manusia dan manusia dan antara manusia dan Tuhan, antara Tuhan dan semesta alam. Jelas dikatakan, bahwa seluruh alam semesta diciptakan oleh Tuhan. Inilah inti wahyu. Bukan hanya kodrat Tuhan melampaui akal-budi kita manusia, tetapi cara kerja Tuhan sering juga. Karena tidak terdapat komparasi sepadan (tertium comparationis) dan kemampuan ungkapan manusia terbatas, maka sering dipergunakan analogi, metafor, gambar, puisi dsb.

 

ILMU ALAM

AGAMA

Sumber pengetahuan

Alam raya: observasi, eksperimen

Wahyu,

iman

metode

induksi:

generalisasi (dalil alam)

deduksi

tujuan

mengenal alam raya

mengenal Tuhan,

mengenal kehendak Tuhan

dalam relasi dengan Tuhan dan di antara manusia (perintah)

Bahasa yang dipergunakan

eksakt

deskripsi: analogi, metafora, alegori, gambar, puisi

 

Teori Evolusi

Menurut teori evolusi seluruh alam hidup – pada masa lampau dan dewasa ini – merupakan hasil perkembangan berangsur-angsur dari makluk hidup yang paling sederhana sampai manusia. Sesuai pandangan Darwin, motor seluruh proses ini adalah mutasi atau perubahan, adaptasi terhadap lingkungan dan perjuangan untuk bertahan hidup (struggle for life).

Organisme hidup terdiri dari tiga komponen: informasi genetis, organisasi dan lingkungan [Strzałko et al. 1980]

Berkat genetika molekuler kita kenal kode genetis, yang terungkap dalam sekuensi triplet empat macam basa organis. Maka mutasi adalah perubahan dalam urutan basa itu atau jumlah dan bentuk kromosom.

Organisasi materi dalam organisme hidup menyangkut segala interaksi (reaksi) antara komponen organis di dalamnya, sehingga organisme hidup selalu bereaksi secara holisits, sebagai suatu keseluruhan.

Lingkungan merupakan conditio sine qua non perkembangan organisme hidup. Dalam interaksi dengan lingkungan organisme beradaptasi. Beda dalam kemampuan itu merupakan penentu dalam struggle for life. Organisme yang paling fit akan berkembang biak lebih baik dari pada lawannya. Maka lambat-laun ciri populasi akan berubah.

Adaptasi yang paling menarik adalah adaptasi antara binatang dan tumbuh-tumbuhan dan antara binatang dan binatang, yang saling membantu dan mempertahankan keseimbangan dalam lingkungan.

Bukti Evolusi

Dibedakan dua macam bukti – yang langsung dan yang tidak langsung.

Bukti langsung ialah fosil-fosil, yang berasal dari berbagai zaman sejarah bumi (Tab. 1). Jelas dapat kita lihat, bahwa alam hidup tetap berubah dan berkembang. Dalam sejarah berulang kali terjadi berbagai musibah, yang melenyapkan jenis makluk hidup tertentu, yang selanjutnya diganti dengan yang baru (Tab. 2). Seolah-olah yang lama memberikan tempat untuk yang baru.

Menurut perkiraan para astronom, bumi terbentuk kurang-lebih 4.5 miliard tahun lampau. Fosil tertua organisme hidup berusia kurang-lebih 3.5 miliard tahun lalu, mulai dari yang amat sekerhana; baru bertahap muncul yang lebih sempurna. Puncaknya ialah manusia; namun manusia pun berubah dan berkembang.

Sejarah bumi dibagi atas zaman, era dan formasi, sesuai peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau.

Tabel 1. Ringkasan Sejarah Bumi

 

orogenesis besar ke-1: banyak makluk hancur

PROTEROZOIKUM

jutaan th.

era
formasi
tumbuhan

binatang

3500

tua

 

fosil sangat sedikit

1100

muda

 

 

algae lautan

Protozoa lautan, siput, cacingan laut

orogenesis besar ke-2: sangat banyak makluk hancur/lenyap

PALEOZOIKUM

jutaan th.

era
formasi
tumbuhan

binatang

600

Kambrium

 

Algae laut
Trilobit & Brachiopoda

500

Ordovisium

 

ikan tak berahang, karang, Trilobit

425

Silur

 

tumbuhan darat, Thallophyta ! serangga tak bersayap, evolusi ikan

405

Devon

 

makin banyak tumbuhan darat, Angiospermae, hutan! ikan bernafas! dua, amfibi!

ikan hiu!

345

Karbon

 

hutan pakis & lumutan raksasa,

makin banyak Angiospermae

Kian banyak jenis amfibi, reptil!

280

Perm

 

pakis & lumutan raksasa mulai berkurang Banyak jenis binatang lenyap,

reptil mirip Mammalia

MESOZOIKUM

jutaan th.

era
formasi
tumbuhan

binatang

230

Trias

 

perkembangan pesat Angiospermae Dinosauria, Pterosauria, Mammalia yg bertelur

181

Yura

 

perkembangan Dicotuledonae Archeopterix (burung bergigi)

135

Kapur

 

Monocotyledonae masa jaya & lenyapnya Dinosauria, burung tanpa gigi

orogenesis besar ke-3: a.l. muncul Nusantara

KENOZOIKUM
jutaan th.
era
formasi
tumbuhan

binatang

63

Tersier

Paleosin

 

Mammalia primitif

58

 

Eosin

 

evolusi Mammalia – Placentalia

36

 

Oligosin

perkembangan hutan

lenyap Mammalia primitif, Anthropoidea, Mammalia dewasa ini

25

 

Miosin

 

puncak evolusi Mammalia, Hominoidea

13

 

Pliosin

hutan berkurang, evolusi Monocotyle-donae Evolusi menuju Homo,

Muncul Homo

1

Kwartier

Pleisto-sin

 

Lenyap Mammalia raksasa,

Homo sapiens

0.11

 

Holosin

perkembang-an rerumputan

Homo sapiens sapiens

 

Tabel 2. Muncul-Lenyapnya Genera di Masa Lampau

 

Masa

lenyap

baru

 

Bukti Tidak Langsung

Selain bukti dari paleontologi, dari fakta lain juga dapat ditarik kesimpulan mengenai kesatuan seluruh alam hidup. Logika adalah berikut: Karena seluruh alam hidup memiliki banyak kesamaan baik dalam struktur kimiawi dan proses fisiologis maupun dalam struktur serta fungsi badan, maka semua makluk hidup seharusnya memiliki awal yang sama; jika semua makluk memiliki awal yang sama, maka semua merupakan hasil perkembangan dan diferensiasi dari masa lampau sampai kini.

1) Dasar kimiawi seluruh materi hidup adalah sama, yaitu C (karbon), O (oksigen), H (hidrogen), N (nitrogen) serta beberapa elemen lainnya seperti S (belerang), P (fosfor), Ca (zat kapur), Mg (magnesium), Fe (zat besi), Cu (tembaga) dan Mn (mangan). Patut ditanya, apakah materi hidup hanya hidup, kalau dibangun pada dasar karbon? Apakah tidak ada kemungkinan lain? Ada ahli, yang melontarkan ide lain, yaitu bahwa materi hidup dapat dibangun sama baik di atas dasar Si (silisium), yang jauh lebih banyak jumlahnya dari pada karbon. Secara kimiawi silisium bersifat mirip sekali dengan karbon[2]. Kalau toh karbon menjadi dasar seluruh materi hidup, maka hal ini membuktikan, bahwa hidup mempunyai satu sumber yang sama.

Sama halnya dengan jenis senyawaan kimiawi. Seluruh makluk hidup mempunyai molekul yang sama, yakni protein, lipida, karbohidrat, DNA serta sebagian besar enzim. Memang ada beda minimal pada jenis masing-masing, namun modelnya selalu sama. Bukan hanya susunan sumaris molekulnya sama, tetapi konfigurasi dimensionalnya juga. Proses-proses fisiologis, seperti misalnya pencernaan atau fungsi saraf, berlangsung menurut satu model, mulai pada Protozoa sampai dengan Primata.

Memang ada bedanya dalam detail, khususnya dalam DNA dan protein. Setiap makluk hidup memiliki kekhasan dalam susunan DNA dan konsekuen dalam protein, yang justru menjadi dasar variasi alam hidup, namun detail ini merupakan hanya bagian sangat minimal dibanding dengan seluruh materi hidup.

2) Terdapat juga kesamaan dalam struktur badan (anatomi, morfologi) pada satuan sistematis makluk hidup. Hal ini kentara sekali pada Vertebrata misalnya. Tangan manusia, kaki depan domba, sayap burung, sirip ikan lumba-lumba mempunyai fungsi berbeda, namun struktur anatomisnya sama. Juga alat rudimenter, yang kehilangan fungsinya, toh masih ada dalam badan, seperti misalnya tulang ekor (os coccygis), usus buntu dan sisa kelopak mata ketiga pada manusia atau tulang panggul dan tulang tungkai (femur) pada ikan paus. Sulit menjelaskannya, jika tidak diterima, bahwa semua berasal dari model yang sama.

Semuanya ini dapat disebut sebagai kesamaan produsen!

3) Embriologi merupakan sesuatu yang agak khas juga, yang sulit dapat dijelaskan tanpa evolusi. Dalam stadium embrional semua tahap perkembangan individu seolah-olah mengulangi sejarah filogenetis/evolsuinya.

Garis Besar Proses Evolusi

Jika kita mempelajari keseluruhan berkembangan binatang, maka dapat ditentukan dua tendensi umum.

Pertama, tendensi untuk konsentrasi sel-sel saraf, dari yang berbentuk jaringan luas pada binatang primitif sampai pada pembentukan  berkas dan, selanjutnya, otak pada binatang lebih tinggi. Konsentrasi saraf mempercepat reaksi badan atas stimuli dari lingkungan. Penebalan berkas sel saraf khususnya di bagian depan (kepala) berhubungan bagian depan badan selalu paling cepat harus berorientasi dalam lingkungan, kalau bintang berjalan

Kedua, penyempurnaan indra sebagai sarana orientasi dalam lingkungan. Makin sempurna indra, makin besar kemungkinan untuk berorientasi dalam lingkungan. Indra yang paling primitif adalah indra peraba,yang paling sempurna adalah mata.

Dalam sejarah evolusi terlihat beberapa inovasi dalam alam hidup, yang mengizinkan kedua tendensi di atas tadi dapat tercapai.

Inovasi yang pertama adalah pembiakan seksual. Pembiakan seksual memungkinkan pertukaran gen-gen antara dua individu, yang sangat meningkatkan variasi. Keanekaan individual akhirnya mempercepat pembentukan organisme baru.

Diduga, bahwa hidup “lahir” dalam air dan organisme yang tertua memang adalah organisme yang hidup dalam air. Namun air merupakan lingkungan sangat homogen, sehingga kurang merangsang/menuntut makluk hidup. Evolusi alam hidup dipercepat, sejak organisme hidup keluar dari air.

            Untuk fungsi saraf makin sempurna tidak cukup terbentuk hanya berkas saja, besarnya berkas ini sangat penting pula, karena untuk fungsi lebih tinggi dibutuhkan jumlah sel saraf yang cukup banyak. Namun saraf hanya dapat bertambah, jika besarnya badan juga bertambah. Maka ada tendensi untuk memperbesar badan.

Namun badan besar di luar air sangat sulit dapat berfungsi, jika tidak diperkuat oleh kerangka. Kerangka luar, seperti pada serangga misalnya merupaka suatu kemajuan, namun dari segi lain kerangka sedemikian sangat membatasi pertumbuhan badan. Maka inovasi baru yang amat penting adalah kerangka dalam.

            Langkah penyempurnaan selanjutnya adalah pembebasan binatang dari suhu lingkungan. Hal ini tercapai dengan suhu badan yang stabil. Namun untuk itu perlu perkembangan baik sistem termoregulasi dalam badan maupun perlindungan badan berbentuk bulu-bulu.

Indra yang paling sempurna adalah penglihatan. Namun penglihatan kurang berguna, jika lingkaran pandangan agak terbatas. Maka inovasi berikutnya adalah vertikalisasi badan, yang semula terjadi dengan kemungkinan pengangkatan kepala, lalu secara sempurna tercapai pada binatang berkaki dua. Puncaknya ialah pandangaan stereoskopis, jika dua mata terletak di depan.

Agama Nasrani

Sumber wahyu Agama Nasrani adalah Alkitab. Bagian pertama (Perjanjian Lama) Alkitab diambil alih dari Agama Yahudi. Bagian yang khas Agama Nasrani, adalah bagian terakhir, yang sering disebut Injil (Perjanjian Baru). Alkitab bukan homogen, karena pengarangnya banyak, namun semua pengarang menulis di bawah pengaruh wahyu ilahi.

Alkitab adalah buku rohani, bukan buku biologi!

Kisah tentang terjadinya alam semesta termuat terutama pada dua bab pertama Kitab yang pertama, yaitu Kitab Kejadian (Genesis) (bdk Lampiran 1).

„Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Ini awalnya Alkitab dan inti masalah asal-mula dunia. Selanjutnya dikisahkan seluruh proses penciptaan, terbagi atas enam hari[3].

·        Hari pertama: diciptakan terang;

·        Hari kedua: cakrawala, yang “memisahkan air dari air”[4];

·        Hari ketiga: laut dan daratan, dan tetumbuhan;

·        Hari keempat: matahari, bulan dan bintang;

·        Hari kelima: makluk hidup dalam air;

·        Hari keenam: segala binatang dan manusia.

Pada hari ketujuh Tuhan beristirahat dari segala pekerjaanNya. Bab kedua mengulangi penciptaan dan nasib selanjutnya manusia.

Bab 2 mengulangi secara ringkas penciptaan, lalu mengkhususkan penciptaan manusia/pria dengan cara sangat antropomorfis seolah-olah Tuhan memiliki tangan dan mulut[5]. Penciptaan wanita dari rusuk pria mempunyai arti simbolis. “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” menyamakan martabat wanita dengan martabat pria. Pada waktu itu di Timur Tengah wanita dipandang sederajat lebih rendah dari pada pria.  

Analisis linguistis teks Hibrani (asli) menunjukkan, bahwa bab pertama 1) lebih mudah dari pada bab kedua (yang rupanya berasal dari Musa), dan 2) merupakan bukan sejarah, melainkan madah pujian kebesaran Tuhan-Pencipta. Maka inti pesan kisah ini adalah: Segala sesuatu berasal dari Tuhan, selaku Pencipta universal. Namun urutan penciptaan agak bebas, maka sering tidak logis (licentia poetica)[6].

 

Diskusi

Apakah penciptaan melawan teori evolusi?

Perkembangan alam hidup merupakan fakta, maka tidak dapat disangsikan. Dibutuhkan interpretasi. Inti pesan Alkitab adalah kalimat „Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Berarti: Segala sesuatu berasal dari Tuhan-Pencipta. Namun masalah perkembangan langit dan bumi tidak terungkap. Ini tugas manusia.

Sebagai seorang biolog sulit dapat pengarang terima awal abiogenetis kehidupan. Telah dilaksanakan ratusan eksperimen, guna membuktikan, bahwa dalam kondisi tertentu, yang ada pada masa lampau, materi hidup dapat terbentuk dari sendirinya dari materi angorganis – secara kebetulan. Susunan kimiawi sel yang paling sederhana serta saling kebergantungan interaksi unsur-unsurnya begitu kompleks, sehingga faktor kebetulan sama dengan

1/ ∞ limes à 0

yang berarti bahwa kebetulan harus ditolak. Jadi kalau tidak mungkin terjadi dengan kebetulan, maka harus ada intervensi dari luar, yaitu diciptakan.

Evolusi memang merupak fakta, tetapi interpretasi faktor, yang menyebabkannya, khususnya Darwin, Heckel dan pengikut-pengikut lainnya pada abad 19-20 sangat kurang memuaskan, karena sangat mekanistis dan sering reduksionistis. Verhulst [2003] berusaha mencari suatu solusi agak holistis.

Materi mati memang ada dalam interaksi kimiawi, namun interaksi dalam materi hidup merupakan suatu tingkatan pengorganisasian dan reaksi yang baru, sehingga dapat dikatakan materi hidup memiliki kualitas yang baru (loncatan).  Hidup intelektual juga merupakan suatu kualitas baru (loncatan). Jika dipandang dari segi organisasi materi, maka evolusi dapat dilukiskan dalam grafik berikut (Gamb. 1).

Gambar 1. Pengorganisasian/komplikasi materi: awal – pembentukan materi mati; lonctan ke-1– pembentukan materi hidup; loncatan ke-2 – pembentukan intelekt

 

            Pierre Teilhard de Chardin SJ, seorang teolog dan sekali gus paleontolog, pernah menganjurkan teori tersendiri, yang menggabungkan kreasi dan evolusi.

Waktu pada awal-mula Tuhan menciptakan materi, Ia memberi perintah kepada materi itu, agar berkembang ke arah makluk yang kian sempurna sampai kepada makluk yang sanggup berpikir, yang berakal-budi, yang menggabungkan unsur material dengan unsur spiritual. Dengan demikian Tuhan memberikan kepada materi gaya dan arah perkembangan tanpa menentukan jalan dan caranya. Maka dapat difahami, bahwa evolusi berjalan ke berbagai arah dan acapkali masuk jalan buntu, tetapi akhirnya berhasil mencapai tujuannya.

Teori ini juga menjelaskan pembentukan abiogenetis materi hidup, karena materi bergerak bukan dari kekuatannya sendiri, tetapi diciptakan oleh gaya imanen yang diberi oleh Tuhan pada mulanya. Kata A. Vandel, seorang ahli biologi terkemuka di Perancis: “Tak mungkin materi pada awal-mulanya sama seperti sekarang. Mula-mula materi penuh gaya dan hebat dalam kemungkinannya. Materi mampu untuk mengadakan baik yang anorganis maupun yang organis… Dengan melahirkan kehidupan, kebanyakan gaya ciptanya diteruskan ke situ. Oleh karena itu sekarang tertinggal sisa materi saja, yang inert, yang kehilangan banyak sifatnya. Inilah materi, yang menjadi obyek penelitian para ahli fisika dan kimia dewasa ini. Percumalah segala usaha untuk menciptakan kehidupan dari materi yang inert dan kosong ini, yang kehilangan kebanyakan gayanya.” [Le Mesage de la Biologie, 1943, kutip Dose dan Rauchfuss, 1975].

Teori Teilhard de Chardin ada lawannya baik di antara materialis maupun kreasionis. Kreasionis, misalnya, mempersoalkan pembentukan unsur spiritual dari materi, khususnya yang disebut jiwa. Selanjutnya jiwa individual yang tidak mati. Tetapi ini sebenarnya sudah soal teologi, bukan soal evolusi.

Kepustakaan

Dose, K & Rauchfuss (1975) Chemische Evolution und der Ursprung lebender Systeme. Wissenschaftlich Verlagsgesellschaft MBH, Stuttgart.

Glinka, J. (1985) Perkembangan Alam Hidup. Nusa Indah, Ende.

(2008) Garis Besar Evolusi Menuju Homo. Manusia Makluk Sosial Biologis.UAP, 18-27.

(1999) Evolusi dari Sudut Ilmu Alam. (belum dipublikasi)

Heberer, G. (ed.)(1967) Die Evolution der Organismen. Gustav Fischer Verlag, Stuttgart.

Henderson, C.P. (s.a.) Pierre Teilhard de Chardin: Toward a Science Charged with Faith. (www.teilhard de chardin)

Henneberg, M.  (1988) Evolution of Human Brain Size with Notes on the Paradigm of CNS Function. Basic Medical Science Lecture.

Henneberg, M., J.F. Thackeray (1995) A Single-Lineage Hypothesis of Hominid Evolution. Evolutionary Theory 11: 31-38.

Kreisberg, J.C. (1995) A Globe Clothing Itself with a Brain. Wired Ventures Ltd., New York. (www.teilhard de chardin)

Minugh-Purvis, N.,  K.J. McNamara  (2002) Human Evolution through Developmental Change. The Johns Hopkins University Press, Baltimore – London.

Strzalko, J., M. Henneberg (1982) Hominization as a Necessary Effect of Evolution of a Non-Genetic Mode of Hereditary Transmission. dalam V.J.A.Novok & J. Milkowsky (eds.) Evolution and Environment hal. 367-376.

Strzalko, J., M. Henneberg, J. Piontek (1980) Populacje ludzkie jako systemy biologiczne. Państwowe Wydawnictwo Naukowe, Warszawa.

Szamot, M. (2003) Genezis, czy ktoś w to jeszcze wierzy.Wydawnictwo WAM, Kraków.

Teilhard de Chardin, P. (1955) Le Phenomene Humain. (www.teilhard de chardin)

Thenius, E. (1980) Grundzüge der Faunen- und Verbreitungsgeschichte der Säugetiere. . Gustav Fischer Verlag, Stuttgart.

Verhulst, J. (2003) Developmental Dynamics in Humans and Other Primates. Adonis Press, Ghent, NY.

Lampiran 1

 

Kejadian

1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

1:3 Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.

1:4 Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.

1:5 Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.

1:6 Berfirmanlah Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.”

1:7 Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian.

1:8 Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.

1:9 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian.

1:10 Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

1:11 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Dan jadilah demikian.

1:12 Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

1:13 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.

1:14 Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,

1:15 dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian.

1:16 Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.

1:17 Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,

1:18 dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

1:19 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat.

1:20 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala.”

1:21 Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

1:22 Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.”

1:23 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima.

1:24 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar.” Dan jadilah demikian.

1:25 Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

1:26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

1:29 Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.

1:30 Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian.

1:31 Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

Bab 2

2:1 Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya.

2:2 Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu.

2:3 Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.

2:4 Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, –

2:5 belum ada semak apa pun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apa pun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu;

2:6 tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu –

2:7 ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

2:8 Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.

2:9 Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

2:10 Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang.

2:11 Yang pertama, namanya Pison, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila, tempat emas ada.

2:12 Dan emas dari negeri itu baik; di sana ada damar bedolah dan batu krisopras.

2:13 Nama sungai yang kedua ialah Gihon, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Kush.

2:14 Nama sungai yang ketiga ialah Tigris, yakni yang mengalir di sebelah timur Asyur. Dan sungai yang keempat ialah Efrat.

2:15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

2:16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,

2:17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

2:18 TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

2:19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.

2:20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.

2:21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.

2:22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

2:23 Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.”

2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.


[1] Hal ini terutama menyangkut beberapa aliran Kristen Protestan bersifat fundamentalis.

[2]  dalam proses fosilisasi, misalnya, C diganti Si tanpa merusak struktur.

[3]  “hari” (bah. Hibrani yom) dalam bahasa Hibrani dapat berarti hari atau zaman.

[4]  Menurut kepercayaan pada waktu itu ada air di atas dan air di bawah, yang dipisahkan oleh cakrawala.

[5]  Dalam terjemahan bahasa Indonesia pun dapat dilihat beda. Dalam bab 1 “Tuhan berfiman…., maka terjadilah”, sedangkan dalam bab 2 “Tuhan membuat”.

[6]  Ada ahli Alkitab, yang berpendapat, bahwa bab 1 ini diinspirasi oleh epos Gilgamesh dari Sumeria. Epos ini menceritakan antara lain kosmogoni dan peran dewa-dewa di dalamnya. Maka autor bab 1 Alkitab mau menunjukkan, bahwa segala sesuatu yang ada diciptakan bukan oleh dewa-dewa, tetapi oleh Tuhan Allah.

0 

20November2012

Global Mobility: Possible Consequences in the Spreading of Infectious Diseases and the Prevention through Social-Cultural Approach

Posted by Mirth under: Health / Kesehatan; culture / budaya.

http://inter.oop.cmu.ac.th

Global Mobility: Possible Consequences in the Spreading of Infectious Diseases and the Prevention through Social-Cultural Approach

Myrtati D. Artaria

Dept. Anthropology, Airlangga University, Surabaya (Indonesia)

 

ABSTRACT

 

Global mobilization is undoubtedly affecting all aspects of human around the world, including the spread of disease. The colonization of America was a good example of the influence of disease upon history. Meanwhile, disease may affect the wellbeing and the economic status of an individual. There is a believe that diseases are the result of poverty. However, some diseases are now not only the result of poverty, but have been contributing to poverty so that there is a worrying circle. For example, according to WHO, Malaria has been a major restraint to economic development. Thus, global mobility has positive aspects, as well as negative impact to the world’s population. There is a changing nature of the global health problems. In 2002, almost 11 million people died of infectious diseases. There are 8.8 million new cases of Tuberculosis (TB) and 1.75 million deaths from TB, each year. AIDS/HIV has spread rapidly. UNAIDS estimates for 2008 that there were roughly 33.4 million living with HIV, 2.7 million new infections of HIV, 2 million deaths from AIDS. Recently, 1.6 million people still die from pneumococcal diseases every year, more than half of the victims are children. Halting and reversing the spread of infectious disease required far greater access to prevention services and treatment, care and support than was currently available. It has been estimated that in the next 40 to 50 years infections, which have been problematic for years, will become even more of a problem. This rise is due to several factors, one of them is the increase in global travel. Mass media is the most effective way to reach broad audiences. However, they must be planned and tested to ensure that the messages reach, and meet the interests of, the chosen audience segments. It is suggested that prevention and treatment strategies should  be integrated within existing social, cultural and religious frameworks, working with religious leaders as key collaborators, and provision of appropriate healthcare resources and infrastructure. The prevention of Avian flu virus in Indonesia was a good example.

 

Keywords: preventing infection, germs, disease, behavioral interventions, social-cultural

0 

20November2012

variasi manusia

Posted by Mirth under: antropologi ragawi.

Bahan kuliah variasi manusia:

1.variasi-manusia.pdf

2.  variasi-manusia-ii.pdf

0 

17November2012

Consumption of Formula Milk Caused Infant’s Greater Body Weight and Upper Arm Circumference

Posted by Mirth under: Health / Kesehatan; antropologi ragawi; biologi manusia; growth study / tumbuh kembang; social biology / biologi sosial.

For full text, click on: full-text-n-tables_lactation_jurnal-uht_submitted.pdf

How to cite this article:

Lestyaningsih, Puji and Artaria, Myrtati Dyah (2008) Consumption of Formula Milk Caused Infant’s Greater Body Weight and Upper Arm Circumference. Medical Journal of Universitas Hang Tuah Vol. 6(3): 119-122.

0 

16November2012

Growth Patterns of Javanese and Cape Coloured Children: Anthropometric Study in Well-off Children

Posted by Mirth under: antropologi ragawi; growth study / tumbuh kembang; social biology / biologi sosial.

For  full text, click on: javanese-children-compared-to-south-african_fk-uht.pdf

How to cite this article:

Artaria, Myrtati Dyah (2009)  Growth Patterns of Javanese and Cape Coloured Children: Anthropometric Study in Well-off Children. Medical Journal of Universitas Hang Tuah Vol. 7(2).

ABSTRACT

Growing children in certain populations are not always following the same pattern as children in other populations. The purpose of this research is to prove that children from good socio-economic conditions growing in two clearly distinct populations may  not have similar patterns of growth. A total of 1691 children (737 boys and 954 girls) middle to upper socioeconomic status, aged 6 to 19 years, were measured during the study. The variables measured were body height, weight, trunk length, upper limb length, lower limb length, humerus biepicondylar breadth, subscapular and abdominal skinfold thicknesses. Javanese schoolchildren’s anthropometric measurements were compared to those of Cape Coloured. The averages of most length measurements for Javanese schoolchildren were closer to those for urban Cape Coloured children in the early years, and became closer to those for rural Cape Coloured children in the later years. This is not likely to mean that the younger Javanese children lived in a better environment, had better health care, or were generally richer than the older children. General conditions have not changed much in 17 years in Malang, up to the time of this measurement. Those two facts simply mean that Javanese schoolchildren follow a different pattern of growth from Cape Coloured children and those children measured to create the NHANES growth reference. This confirms that Javanese schoolchildren have different size and shape which cannot be explained simply by their having a lower quality of environment and nutrition. There must be a strong genetic influence in the regulation of their size and shape.

0 

15November2012

Reconstruction of face from the skull

Posted by Mirth under: antropologi ragawi; forensic anthropology / antropologi forensik.

proceedingfutureanatomy.jpg

for fulltext, click on:  reconstruction-of-face-from-the-skull.pdf

How to cite this article: Artaria, Myrtati Dyah (2011) Reconstruction of face from the skull. Proceeding of International Seminar, 6th APICA and 13th PIN PAAI, The Future of Anatomy, 22-23 July 2011, Surabaya, Indonesia.

0 

11November2012

Buku Bunga Rampai Antropologi Ragawi

Posted by Mirth under: Health / Kesehatan; antropologi ragawi; books / buku; forensic anthropology / antropologi forensik; growth study / tumbuh kembang; social biology / biologi sosial.

 coverbukubungarampai.jpg

Daftar Isi:

EVOLUSI DAN HAKEKAT MANUSIA

Apa yang Membuat Kita Menjadi Manusia? Aspek genetis

Jozef Glinka SVD

Evolutionary Origin and Role of Human Spirituality

Maciej Henneberg dan Arthur Saniotis

Evolusi: ada atau tidak?

Myrtati Dyah Artaria

Rekonstruksi Virtual dalam Paleoantropologi:

Suatu Perspektif Kritik dari Wakil Negara-Negara yang Kaya Situs dan Temuan Fosil Manusia Purba Namun Masih Miskin Teknologinya

Rusyad Adi Surianto

Antropologi ragawi dan aplikasi dalam forensik

Antropologi Forensik dan Bencana

Etty Indriati

Pengalaman Pemeriksaan Antropologi Forensik dalam Mengidentifikasi Sisa-Sisa Tulang Belulang Tentara Jepang yang Gugur pada Masa Perang Dunia ke-2 di Papua Barat dan Makassar, Indonesia

(Periode Tahun 1999 – 2009)

Evi Untoro dan Djaja Surya Atmadja.

Program Pendidikan Anatomi Antropologi dan Forensik di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Indonesia

Viskasari P. Kalanjati

Penentuan Umur Berdasarkan Derajat Keausan Gigi pada Individu Dewasa

Tri Hartini Yuliawati

Perbedaan keperempuanan/kelelakian Tengkorak pada Jenis Ras yang Berbeda

Tri Hartini Yuliawati

Mengidentifikasi Daun Telinga

Herin Setianingsih & Myrtati D. Artaria

Variasi biologis manusia, kelainan dan penyakit

Trisomi 21 (Sindrom Down): Manajemen dan Terapi

Putu Oky Ari Tania & HSM Soeatmadji

Enamel Lamellae sebagai Jalur Terjadinya Karies

Endah Wahjuningsih

Peran Somatotipe dalam DUNIA Olahraga

Neni Trilusiana Rahmawati 

The Three Human Morphotypes in Indonesia

Josef Glinka SVD, M. D. Artaria, T. Koesbardiati

Variasi Bentuk Wajah, Mata, Hidung dan Bibir pada Ras Europoid

Primiary Devita Arian Paramita

Kaitan Variasi Biologis Manusia dengan Faktor Sosial Budaya

Fidya

Antropologi Ragawi dalam Realistic Portrait Drawing

Fitriya Niken Ariningsih

Antropologi Ragawi Membuka Mataku

Feirizza

Ingin Putih, Bisakah?

Onny Yoelyana

0 

7November2012

Foto KKA Antropologi UA

Posted by Mirth under: photo.

foto kka

0 

7November2012

Height and Weight of Javanese in Malang (Indonesia): Increments of Two Times Measurements within 2 Years

Posted by Mirth under: antropologi ragawi; articles / artikel; growth study / tumbuh kembang.

ABSTRACT

Background: It is commonly assumed that the main reason for variations in child growth among various countries are living conditions, especially those influencing nutritional status and health status. Although undoubtedly true, other factors may also differentiate growth among various populations. Objective: No studies have been found in East Java that included the adolescents’ increments of growth. Therefore this study intended to provide Javanese adolescents’ increments of growth to complement the lack of data from this area. Methods: A mixed-longitudinal growth study of well-off Javanese has been carried out in Malang. Heights and weights of 499 males and 617 females were measured in year 2000 and 2001. Results: Javanese males’ peak height velocity (PHV) was 89.3 mm/year, and the females’ was 69.7mm/year. The age of PHV was around 13 years and 11 years in males and females respectively. The PHV of the males and females were comparable to those of NHANES that were computed from the averages. The peaks of weight velocities (PWV) of Javanese males and females were lower and earlier in timing than those of NHANES. Conclusion: The age of PHVs were similar to those of NHANES. Further studies—such as longitudinal study—in well-off children need to be done to better understand the characteristics of PHV and PWV in human.

For full text, click on: http://journal.ugm.ac.id/index.php/jai/article/download/1139/949

0 

Archives

Categories

Links

Meta

Recent Comments

Recent Posts

Search

StatPress

Visits today: 0

Login:



Ingat saya?
Daftar Blog
Lupa password?

 

December 2016
M T W T F S S
« Oct    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pages

Tags